• Saksikan LIVE di Adi TV, Senin, 17 Oktober 2018 Pukul 14.00 - 15.00 WIB. Talkshow Interaktif DPRD dengan topik Pengembangan Lahan Pertanian di Kota Yogyakarta bersama Pimpinan DPRD, Komisi B, Dinas Pertanian dan Pangan Kota Yogyakarta. Sampaikan masukan d
  • Event Calendar
    • Anggota DPRD Kota Yogyakarta Masa Jabatan 2014-2019

    • anggota DPRD masa jabatan 2014-2019

    • Anggota DPRD perempuan masa jabatan 2014-2019

    • Rapat Konsultansi Pimpinan DPRD dan Pimpinan Fraksi dengan TAPD

    ASPIRASI
    PENGADUAN
    JAJAK PENDAPAT
    Bagaimana Kinerja dan hasil DPRD Saat Ini?
    Bagus
    Biasa Saja
    Jelek

    HASIL POLLING
    STATISTIK PENGUNJUNG
    • Browser :
    • OS : Unknown Platform
    • Dikunjungi sebanyak : 513307 kali
    Share This Articel on :

    2013-01-03 09:14:04 WIB

    Membangun Kampung Wisata Berbasis Komunitas Sebagai Upaya Meningkatkan Kesejahteraan Masyakarat di wilayah dan Memperluas Destinasi Wisata di Kota Yogyakarta

    Oleh : Ketua DPRD Kota Yogyakarta Henry Kuncoroyekti, SH

     

    Sebagaimana kita ketahui bersama, pariwisata adalah suatu kegiatan yang secara langsung menyentuh dan melibatkan masyarakat yang membawa konsekuensi logis adanya berbagai dampak terhadap masyarakat setempat, baik dampak positif terutama dalam konteks peningkatan ekonomi wilayah, maupun dampak negatifnya seperti terjadinya kesenjangan pendapatan antara komunitas masyarakat lokal dengan pemilik modal besar yang memiliki asset terhadap fasilitas wisata seperti hotel, resort, dan restaurant di suatu wilayah, dan biasanya dalam konktes tersebut masyarakat atau komunitas lokal hanya menjadi penonton bukan pelaku utama dan penerima manfaat dari sektor pariwisata .

     

    Konteks yang sama dapat terjadi di Kota Yogyakarta sebagai Kota Pariwisata, jika perkembangan pariwisata di Kota Yogyakarta tidak memperhatikan kondisi sosiologis masyarakat tapi hanya bertumpu pada pembangunan ekonomi demi meningkatkan PAD dari sektor pariwisata. Sehingga yang terjadi pemerintah Kota hanya sibuk memberikan dukungan bagi tumbuh kembangnya sektor perhotelan dan restaurant semata yang dapat memberikan kontribusi bagi peningkatan pajak daerah.  Hal ini dapat dilihat dengan bertambahnya jumlah hotel berbintang yang memadati wilayah Kota Yogyakarta.

    Di satu sisi, bertambahnya jumlah fasilitas akomodasi seperti hotel berbintang dan melati di Kota Yogyakarta dapat dikatakan merupakan hal yang positif dalam konteks untuk meningkatkan daya tampung bagi wisatawan yang berkunjung ke Yogyakarta dan di sisi lain juga memberikan kontribusi bagi pajak daerah, serta barangkali juga memperluas kesempatan kerja bagi warga masyarakat .

    Namun di sisi lain, bertambahnya jumlah hotel yang ada, tidak dengan sendirinya menambah lama tinggal (length of stay) wisatawan, jika tidak ada perluasan lokasi atau destinasi wisata di Kota Yogyakarta. Dan di sisi lain, bertambahnya jumlah hotel yang ada juga tidak serta merta dapat memberikan manfaat yang signifikan bagi masyarakat Yogya terutama bagi komunitas lokal yang berada di sekitar hotel berada, jika tidak diimbangi dengan adanya sinergi dan integrasi antara pihak hotel dan komunitas setempat dalam konteks membangun sektor pariwisata.

    Berangkat dari konteks tersebut, penulis ingin membagi sedikit gagasan yang barangkali dapat dijadikan bahan masukan bagi pengembangan sektor pariwisata di Kota Yogyakarta baik dalam konteks memperluas lokasi destinasi wisata maupun meningkatkan kesejahteraan masyarakat sebagai pelaku utama dan penerima manfaat dari sektor pariwisata.

    Membangun Kampung Wisata Berbasis Komunitas

    Kampung Wisata, dikembangkan sebagai upaya untuk membangun ekonomi masyarakat dari sektor pariwisata di suatu wilayah. Dengan konsep ini, diharapkan dapat menstimulasi perkembangan sektor lain yang terkait di wilayah tersebut. Wisata Kampung, merupakan alternatif wisata budaya atau tradisi yang diharapkan memberikan dampak berganda (multiplier effect) terhadap pertumbuhan berbagai sektor kehidupan masyarakat di wilayah tersebut, terutama peningkatan ekonomi melalui peningkatan pendapatan dari komunitas dari kegiatan kunjungan wisata.

    Idealnya Desa wisata atau Kampung wisata adalah suatu bentuk integrasi antara atraksi, akomodasi dan fasilitas pendukung yang disajikan dalam suatu struktur kehidupan masyarakat yang menyatu dengan tata cara dan tradisi yang berlaku. ( Nuryanti, Wiendu. 1993)

    Menurut beberapa pakar pariwisata, terdapat dua konsep yang utama dalam komponen kampung  wisata  yaitu : (1)  Akomodasi sebagian dari tempat tinggal para penduduk setempat dan atau unit-unit yang berkembang atas konsep tempat tinggal penduduk; (2)  Atraksi: seluruh kehidupan keseharian penduduk setempat beserta setting fisik lokasi desa yang memungkinkan berintegrasinya wisatawan sebagai partisipasi aktif seperti : kursus membatik, kegiatan seni karawita, seni tari, festival kesenian tradisional, festival dolanan bocah, event bersih kampung, dan atraksi-atraksi lain yang spesifik dan unik. .

    Pengembangan dari kampung wisata berdasarkan dari  hasil-hasil  studi terkait desa wisata ada  pendekatan dalam menyusun konsep kerja dari pengembangan sebuah kampung biasa menjadi kampung  wisata. Pertama, Pendekatan pasar, dengan tiga macam model yakni , (1) Model Interaksi tidak langsung, model pengembangan ini didekati dengan cara bahwa kampung mendapat manfaat tanpa interaksi langsung dengan wisatawan. Bentuk kegiatan yang terjadi semisal : penulisan atau promosi dalam bentuk buku, website, brosur , kartu pos tentang suatu kampung lengkap dengan gambaran tentang  kehidupan masyarakatnya,  seni dan budaya lokal, arsitektur tradisional, latar belakang sejarah, dan sebagainya; (2) Model Interaksi setengah langsung, model ini sudah lebih maju dengan mengundang wisatawan untuk berkunjung dalam bentuk kegiatan one day trip yang dilakukan oleh wisatawan, kegiatan-kegiatan meliputi makan dan berkegiatan bersama penduduk dan kemudian wisatawan dapat kembali ke tempat akomodasinya. Prinsip model tipe ini adalah bahwa wisatawan hanya singgah dan tidak tinggal bersama dengan penduduk; (3) Model Interaksi Langsung, model ini memungkingkan wisatawan untuk tinggal/bermalam dalam akomodasi yang dimiliki oleh desa tersebut. Di sisi lain berdasarkan daya dukung masyarakat dan potensi dari kampung dapat dikembangkan model alternatif lain berupa pengabungan dari model pertama dan kedua (UNDP and WTO. 1981)

    Berangkat dari pendekatan pertama tersebut, ada beberapa kriteria terkait kampung wisata antara lain : (1) Atraksi wisata; yaitu semua yang mencakup kondisi alam, seni dan budaya komunitas setempat, kegiatan produksi, seperti kerajinan batik, kerajinan perak, dan atraksi yang dipilih adalah yang paling menarik, unik dan atraktif di kampung tersebut; (2) jarak Tempuh; adalah jarak tempuh dari kampung wisata terutama tempat tinggal wisatawan dan juga jarak tempuh dari ibu kota propinsi dan jarak dari ibu kota kabupaten/kota: (3) Besaran atau luasan Kampung atau desam yang mencakup masalah-masalah jumlah rumah, jumlah penduduk, karakteristik dan luas wilayah kampung.  kriteria ini berkaitan dengan daya dukung kepariwisataan pada suatu kampung/desa; (4) Sistem kepercayaan dan social, merupakan aspek penting mengingat adanya aturan-aturan yang khusus pada sebuah komunitas di kampung; (5) ketersediaan infrastruktur yang meliputi fasilitas dan pelayanan transportasi, fasilitas listrik, air bersih, drainase, telepon dan sebagainya.

    Kriteria-kriteria di atas, dapat digunakan untuk melihat karakteristik utama suatu kampung  dan selanjutnya dapat ditentukan apakah suatu desa akan menjadi kampung dengan tipe berhenti sejenak, tipe one day trip atau tipe tinggal inap.

    Pendekatan kedua, adalah pendekatan fisik untuk pengembangan kampung wisata, pendekatan ini merupakan solusi yang umum dalam mengembangkan suatu kampung  melalui sektor pariwisata dengan menggunakan standar-standar khusus dalam mengontrol perkembangan dan menerapkan aktivitas konservasi. Beberapa model dalam pendekatan adalah ; (1)  melakukan konservasi  sejumlah rumah yang memiliki nilai budaya dan arsitektur yang tinggi dan mengubah fungsi rumah tinggal menjadi sebuah museum kampung untuk menghasilkan biaya untuk perawatan dari rumah tersebut; (2) mengembangkan bentuk-bentuk akomodasi di dalam wilayah kampung tersebut yang dioperasikan oleh komunitas setempat sebagai industri skala kecil, seperti membangun home stay, fasilitas rekreasi (sarana out bond, outing game, ruang terbuka hijau, lokasi wisata kuliner, ruang pertemuan, dll)

    Berkaca dari pendekatan tersebut, seharusnya Kota Yogyakarta mampu membangun konsep kampung wisata berbasis komunitas mengingat beragamnya  potensi yang ada pada setiap kampung yang ada di kota Yogyakarta. Namun untuk mewujudkan hal tersebut butuh dukungan semua pihak, baik pemerintah, sektor swasta maupun masyarakat sendiri. Sehingga sektor pariwisata yang berkembang dapat memberikan manfaat yang sebesar-besarnya bagi masyarakat tidak hanya sekedar untuk meningkatkan PAD Kota Yogyakarta.