• Segenap Pimpinan dan Anggota DPRD Kota Yogyakarta Mengucapkan Selamat Menunaikan Ibadah Puasa Bagi Seluruh Umat Muslim
  • Event Calendar
    • Anggota DPRD Kota Yogyakarta Masa Jabatan 2014-2019

    • anggota DPRD masa jabatan 2014-2019

    • Anggota DPRD perempuan masa jabatan 2014-2019

    • Rapat Konsultansi Pimpinan DPRD dan Pimpinan Fraksi dengan TAPD

    ASPIRASI
    PENGADUAN
    JAJAK PENDAPAT
    Bagaimana Kinerja dan hasil DPRD Saat Ini?
    Bagus
    Biasa Saja
    Jelek

    HASIL POLLING
    STATISTIK PENGUNJUNG
    • Browser :
    • OS : Unknown Platform
    • Dikunjungi sebanyak : 615655 kali
    Share This Articel on :
    Kota Yogyakarta Siaga Hadapi Bencana

    2019-07-10 05:56:17 WIB

    Yogyakarta mendapat predikat sebagai etalase bencana. Dari hasil kajian, ada 59 kecamatan dari total 78 kecamatan di Yogyakarta memiliki kerentanan terhadap bencana alam. Jadi cukup banyak potensi bencana alam di Yogyakarta. Bencana alam terjadi di beberapa wilayah pada bagian utara, terdapat Gunung Merapi yang termasuk gunung teraktif di dunia dan erupsinya berkala. Kemudian di selatan, garis pantai Yogyakarta berhadapan langsung dengan laut luas yang mana di lautan Samudera Hindia terdapat sesar Australia. Ketika ada benturan lempeng sesar, maka akan terjadi gempa bumi tektonik. Kalau kekuatan gempa (magnitudo) mencapai 6 SR keatas akan berpotensi tsunami. Kemudian di wilayah Kota Yogyakarta sendiri sering terjadi gempa. Selain itu, juga terdapat bencana musiman. Ketika musim kemarau hampir setiap tahun mengeluarkan status kekeringan, sedangkan ketika musim hujan bencana yang terjadi adalah banjir dan longsor.

    Penanganan bencana harus spesifik disesuaikan dengan karakter bencana yang terjadi dalam suatu daerah. Karena setiap daerah memiliki potensi bencana alam yang beragam, kondisi geografis, serta kemampuan penanganan bencana yang berbeda-beda. Kota Yogyakarta salah satu daerah yang berpotensi tinggi terjadi bencana. Banyak bencana besar yang pernah terjadi salah satunya gempa bumi dan erupsi Gunung Merapi. Oleh karena itu, diperlukan upaya antisipasi serta kesiapan yang matang dalam menghadapi tantangan  bencana mendatang. Ada dua kapasitas dalam menangani bencana yakni;

    1.    Pertama, peningkatan kapasitas struktural berkaitan dengan sarana dan prasarana. Sarana dan prasarana ini mulai dari dibuatnya kajian risiko. Risiko yang ada tidak bersifat stagnan, tetapi sangat dinamis sehingga minimal setiap tahun ada pemutakhiran kajian risiko. Dari sini dapat  disusun rencana kontingensi (renkon), yang berisi perencanaan yang dilakukan untuk menghadapi potensi bencana yang ada. Dalam renkon tersebut, seluruh potensi yang ada diatur dan ditata secara detail sehingga ada pembagian tugas yang jelas dan distribusi sumber daya manusia yang tidak saling tumpang tindih. Renkon kemudian disimulasi, digladikan, dan dipraktekkan. Karena nanti kalau benar-benar terjadi bencana, renkon itu akan mudah berubah menjadi rencana operasi. Selain itu, dari kajian risiko juga dihasilkan Early Warning System (EWS) atau sistem peringatan dini. Sistem ini berfungsi untuk memberitahu masyarakat bahwa akan terjadi bencana.

    2.    Kedua, peningkatan kapasitas nonstruktural yang kami lakukan adalah terkait sumber daya manusianya. Upaya pertama yang dilakukan adalah meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang bencana. Pemerintah Kota Yogyakarta mengeluarkan Peraturan Walikota Yogyakarta Nomor 72 Tahun 2018 tentang Pedoman Pembentukan Kepengurusan Kampung, Kota Yogyakarta memiliki  97 KTB ( Kampung Tangguh Bencana). Prioritas utamayakni  kampung yang berada di bantaran sungai yang dinilai rawan terdampak bencana.  Selanjutnya upaya kedua adalah memperkuat mental masyarakat dalam menghadapi bencana. Ada program simulasi bencana alam bertujuan untuk membiasakan masyarakat berada dalam kondisi bencana, sehingga mereka tahu bagaimana menghadapi situasi saat terjadi bencana. ada beberapa potensi bencana yang mengancam di wilayah kota Yogyakarta salah satunya ancaman bencana di bantaran sungai. Kalau melihat peta kawasan rawan bencana, sepanjang bantaran sungai di Jogja perlu waspada.

    Dalam segi sarana prasarana kita sudah berupaya maksimal dengan potensi yang ada. Dari segi pengetahuan, masyarakat sudah banyak yang paham perihal kebencanaan seperti macam bencana dan cara menyikapinya. Dari segi aparat, secara berkala sudah dilakukan koordinasi. BPBD juga menyiapkan program gladi, tujuannya untuk menguji kesiapan dalam menghadapi bencana. Jumlah korban bencana tidak hanya disebabkan oleh bencana, melainkan juga karena sikap yang salah dalam menghadapi bencana. Meskipun sudah siap siaga, tetapi kita tetap melakukan upaya-upaya konstruktif yang masif dan partisipatif karena memang dalam upaya penanggulangan bencana harus melibatkan semua pihak.

    Saksikan pembahasan terkait kesiagaan Pemkot Yogyakarta dalam menghadapi bencana live di Jogja TV pada Kamis, 11 Juli 2019, pukul 15.00 – 16.00 WIB dengan menhadirkan narasumber:  Sujanarko, SE (Ketua DPRD Kota Yogyakarta), Bambang Seno Baskoro, ST (Wakil Ketua Komisi C DPRD Kota Yogyakarta), Suwarto (Anggota Komisi C DPRD Kota Yogyakarta), dan perwakilan dari BPBD Kota Yogyakarta. Sampaikan saran dan kritik anda. (her/ast)